Hari Lingkungan Hidup

0
44

Hari lingkungan hidup sedunia diperingati setiap tanggal 5 Juni. Untuk tema tahun 2019 adalah “Beat Air Pollution” (Melawan Polusi Udara), di mana melalui fokus ini diharapkan terdapat kesadaran global guna melakukan aksi positif bagi perlindungan terhadap lingkungan, khususnya mereduksi pencemaran udara.

Ibukota Jakarta sendiri telah masuk dalam daftar tiga kota terburuk dalam kualitas udara bersama Dhaka (Bangladesh) dan Dubai (Uni Emirat Arab) berdasarkan data dari Airvisual, situs penyedia peta polusi udara tahun 2019. Sementara itu, data dari Green Peace Indonesia, menyebutkan, warga Jakarta hanya memiliki 34 hari dalam setahun guna dapat menikmati udara bersih minim polusi.

Melalui kualitas udara yang buruk dapat berdampak kepada kecerdasan manusia yang bakal menurun, memicu kematian, dan sejumlah hal negatif lainnya. Tentu jalan keluar yang wajib ditempuh oleh semua pemangku kepentingan, antara lain : mengurangi pemakaian kendaraan pribadi, penggunaan prasarana transportasi massal yang ramah lingkungan, dan sejumlah langkah yang ramah terhadap lingkungan.

Hari Lingkungan Hidup, sendiri, diputuskan dalam sidang umum PBB bersamaan dengan konperensi lingkungan hidup di Stockholm, Swedia, 5-16 Juni 1972. Momentum ini ditujukan guna meningkatkan kesadaran global terhadap urgensi untuk mengambil tindakan yang positif bagi kelestarian lingkungan.

Disadari bahwa problema lingkungan di sebuah negara bakal menimbulkan efek domino di negara atau wilayah lain.

Tepatlah apa yang dikemukakan oleh Thomas Friedman dalam Hot, Flat, and Crowded bahwa dunia bakal lebih panas, rata, dan penuh sesak. Penulis yang juga pernah melucurkan karya fenomenal The World is Flat tersebut, melansir bumi kian gerah akibat laju peningkatan emisi gas rumah kaca ke atmosfer yang menghambat pelepasan udara panas ke angkasa. Bumi menjadi rata via inovasi teknologi komunikasi yang memungkinkan siapa pun, di mana pun, dan kapan pun dapat terkoneksi secara cepat dan mudah,sehingga seolah-olah bumi ibarat berada di atas sebuah pinggan yang datar.

Sebaliknya Bumi pun makin penuh sesak diakibatkan ledakan pertambahan penduduk yang tak terkendali lewat penekanan angka mortalitas.

Sudah tiba saatnya kita berhenti berwacana dan menempuh langkah kongkret mengubah gaya hidup demi penyelamatan lingkungan, hal mana dapat dimulai dari diri sendiri, dari hal terkecil, dan dilakukan sekarang.
Beberapa upaya kongkret dapat kita lakukan, antara lain 3R (reduce, reuse, recycle), menanam tanaman makanan di halaman rumah, atau memilih makanan organik yang tidak menggunakan bahan kimia. Jika kita tidak mau berubah maka alam yang akan mengubah kita. Alam mulai tidak lagi bersahabat dengan kita. Selamatkan alam dan jadikan setiap hari sebagai hari kepedulian menjaga kelestarian alam (mereduksi polusi udara).

******
Roebing Gunawan Budhi (GA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here