Melawan Polusi Plastik Di Hari Lingkungan Hidup Sedunia

0
111

Telah dimulai sejak tahun 1974, World Environment Day atau Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang diperingati setiap tanggal 5 Juni merupakan salah satu program PBB untuk mendorong kesadaran menjaga lingkungan hidup sekitar kita. Dirayakan oleh lebih dari 100 negara dunia, setiap tahunnya PBB memilih satu negara sebagai tuan rumah di mana selebrasi utama akan diadakan sekaligus menentukan tema khusus yang menjadi fokus. Tahun ini, India terpilih sebagai tuan rumah dengan tema utama penanggulangan melawan polusi plastik yang memang kian mencekik.

 

Polusi plastik merupakan salah satu ancaman terbesar bagi ekosistem dunia saat ini. Berdasarkan laporan PBB, dunia menggunakan 5 milyar kantung plastik setiap tahunnya dengan 13 juta ton plastik terbuang di laut setiap tahun yang bisa disetarakan dengan satu truk sampah penuh plastik setiap menitnya. Jumlah plastik yang diproduksi dalam kurun 10 tahun terakhir telah melampaui total plastik yang diproduksi satu abad sebelumnya.

Riset yang dilakukan oleh Ellen McArthur Foundation di tahun 2015 melaporkan bahwa dunia telah menghasilkan 6,3 milyar ton sampah plastik di mana 90 persen sampah plastik tersebut tidak akan terurai sampai 500 tahun berikutnya. Micro-plastic atau fragmen-fragmen plastik berukuran kecil telah ditemukan pada tanah, air minum, minuman kemasan, hingga udara yang kita hirup saat ini.

Riset lain yang dilakukan oleh Trucost mengungkapkan bahwa plastik menyebabkan kerusakan lingkungan sebesar $75 milyar serta menimbulkan masalah kesehatan bagi hewan dan manusia. Khususnya sampah plastik yang terbuang ke laut. Sudah tak terhitung berapa banyak laporan tentang biota laut dan burung yang mati karena mengonsumsi sampah plastik. Atau ikan-ikan yang di dalam perutnya terdapat sampah plastik, termasuk jenis-jenis ikan laut yang biasa menjadi bahan pangan manusia yang bila terkonsumsi dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan dari mulai gangguan kelenjar endokrin hingga kanker.

Salah satu kasus  terbaru yang diberitakan adalah seekor paus yang terperangkap di sebuah kanal di Thailand. Meskipun berhasil dibebaskan dan mendapat perawatan oleh para dokter hewan dan volunter, paus tersebut akhirnya mati setelah memuntahkan lima kantung plastik. Ketika dilakukan autopsi, ditemukan sekitar 80 kantung plastik lain seberat 8 kg di perut hewan malang tersebut.

Pemilihan India sebagai tuan rumah tahun ini pun bukan tanpa alasan. India berada di urutan lima negara dengan polusi plastik terbesar di dunia di mana setiap tahunnya India menghasilkan sampah plastik seberat 30 kapal Titanic. Itu baru India di urutan kelima, bagaimana dengan Cina di urutan pertama dan Indonesia di urutan kedua? Secara umum, Indonesia menghasilkan sampah sebanyak 175.000 ton per hari dengan setiap orang menyumbangkan 0,7 kilogram sampah. Bila masalah ini dibiarkan begitu saja, dalam 30 tahun ke depan diperkirakan jumlah plastik di laut akan mengalahkan jumlah ikan.

Berbagai inisiatif dan kampanye mengurangi sampah plastik pun telah gencar dilakukan. Penggunaan sedotan plastik telah dilarang di beberapa tempat di Amerika Serikat seperti California dan Florida, dan telah dipertimbangkan serius untuk diimplementasikan di New York City. Di luar AS, Vancouver juga baru-baru ini melarang sedotan plastik dan Perdana Menteri Inggris Theresa May telah mengumumkan kebijakan untuk mengurangi sedotan plastik dan penggunaan plastik sekali pakai lainnya di Inggris. Di luar kebijakan pemerintah, beberapa tokoh penting pun telah melakukan inisiatif untuk mengurangi penggunaan materi plastik, termasuk Ratu Elizabeth II yang melarang pemakaian plastik di seluruh kediamannya. Begitu pun dengan beberapa perusahaan dan organisasi yang ikut bergerak seperti turnamen tenis Wimbledon yang tahun ini melarang pemakaian plastik.

Namun, bagaimana kita bisa benar-benar lepas dari sampah plastik di zaman ketika plastik telah menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan kita? Dari riset Trucost, mengganti plastik secara total saat ini justru bisa menimbulkan dampak kerusakan lingkungan lain akibat peningkatan jejak karbon hampir empat kali lipat dari saat ini. Solusi seperti penggunaan kantung kertas pun berarti memotong lebih banyak pohon sehingga daur ulang atau pemakaian materi yang bisa diolah kembali menjadi opsi yang lebih baik.

Kita pun bisa ambil bagian dalam gerakan mengurangi sampah plastik dari saat ini juga, ladies. PBB misalnya mengajak kita untuk bermain “Plastic Pollution Tag” di Instagram yang caranya adalah:

  1. Pilih satu jenis plastik sekali pakai yang siap kamu buang dari hidupmu (misalnya kantung belanja plastik).
  2. Ambil selfiedengan materi alternatif untuk menggantikan fungsi plastik tersebut (misalnya tas katun sebagai pengganti tas plastik saat belanja).
  3. Share selfie tersebut ke Instagram atau media sosial lainnya dengan tagar #BeatPlasticPollution dan #WorldEnvironmentDay. Tagtiga orang temanmu dan minta mereka melakukan tantangan ini juga.

Seperti yang menjadi semboyan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini: If you can’t reuse it, refuse it, yang intinya adalah, jika kamu merasa bahan plastik yang akan kamu pakai hanya berguna untuk sekali pakai dan tidak bisa digunakan lagi, sebaiknya tolak saja dan cari pengganti lain yang lebih reusable. Polusi plastik adalah masalah yang terlihat sepele padahal sangat serius dampaknya bagi ekosistem dunia dan para penghuninya. Ini saatnya kita bertindak, dimulai dari diri sendiri dulu, lalu sekitar kita.

In the name of love and respect for our Mother Earth! (Alexander Kusumapradja, 2018)

Sumber: http://www.cosmopolitan.co.id/article/read/6/2018/14189/Melawan-Polusi-Plasyik-Di-Hari-Lingkungan-Hidup-Sedunia

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here